C.P. 2006/02 Semarang,
6 Februari 2006
Kepada Yth.:
Semua
Anggota Provinsi Indonesia
Di Tempat
Dengan
ini diberitahukan kepada semua anggota Provindo, telah dipanggil Tuhan di RS
St. Elisabeth, Semarang:
PATER JOSEPHUS HOVENS, S.J.
Riwayat Singkat Almarhum :
Pater
J.Hovens, S.J.,
putra dari Bpk. Petrus Hovens (Alm.) dan
Ibu Annelia Beerkens (Alm.)
Lahir di Sittard,
Netherlands, 27 Maret 1927
Masuk Serikat Jesus di
Mariendaal, 7 September 1948
Kaul pertama dalam Serikat
Jesus di Girisonta, Ungaran, 8 September 1950
Juniorat di
Girisonta, Ungaran, tahun 1950 s/d 1952
Filsafat di
Yogyakarta, tahun 1952 s/d 1955
Teologi di
Yogyakarta, tahun 1958 s/d 1962
Tahbisan
Diakon di Yogyakarta, 16 April 1961 oleh Mgr. Soegijopranata, S.J.
Tahbisan
Imamat di Yogyakarta, 22 Agustus 1961 oleh Mgr. Soegijopranata, S.J.
Tersiat di Girisonta,
Ungaran, 1 Juli 1962 s/d 30 Juni 1963, instruktor Mgr. Willekens, S.J.
Kaul Akhir di Spaubeek, 2
Februari 1964,
penerima R.P. Kurris, S.J., dengan Gradus Coadjutor Spiritualis
Mengulangi Kaul Akhir di Girisonta,
Ungaran, 1 Januari 1980,
penerima Rm. P. Suradibrata, S.J., dengan Gradus Profess.
Pater J. Hovens, S.J.,
menjalani tiga kali cuti dan pulang ke Netherlands yaitu
1 Nopember 1963 s/d 30 April 1968
1 Februari 1968 s/d 13 Januari 1969
22 Desember 1973 s/d 12 Juli 1974.
Pater J. Hovens, S.J.,
mengalami gangguan kesehatan yang pernah diderita yaitu Hipertensi (Tekanan
Darah Tinggi) dan dirawat di Nijmegen, Netherlands oleh Dr. Prick. Sakit
tersebut sudah deritanya selama 9 tahun.
Riwayat Tugas :
1955-1958 : Sebagai
Kategis di Kotabaru, Yogyakarta
1963-1968 : Pastor
di Kalasan, Yogyakarta
1970-2006 : Pelaksana
AAK di Girisonta, Ungaran
1989-1994 : Admonitor
Superior Novisiat Girisonta, Ungaran
1994-1995 : Anggota
Panitia Integrasi Aksi Agraris Do School dengan Sekolah Pertanian Pembangunan
Ambarawa
1995-1996 : Melanjutkan
karya pertanian di daerah Kedungombo, Wonogiri dll.
1996-2001 : Pastor
Pembantu di Paroki St. Johanes Apostoli, Wonogiri
2001-2004 : Pastor
Pembantu di Paroki St. Joseph, Baturetno
2004-2005 : Pastor
Pembantu di Paroki St. Antonius Purbayan, Surakarta
2005-2006 : Menjalani
proses penyembuhan dan tinggal di Wisma Emmaus Girisonta, Ungaran
Disamping tugas pokok Pater J. Hovens, S.J., masih
mengikuti:
1969 – Kursus Pertanian Taman
Tani di Salatiga
1973 - Workshop yang dipimpin Pater P. Kuijlaars
Kadarman, S.J., di Girisonta, Ungaran
Pater J. Hovens, S.J., juga memberikan
Retret/Kursus-kursus/Workshop/Colloquium dll. untuk kelompok:
Suster-suster CB di Blok B,
Kebayoran Baru, Jakarta, 1963
Bruder –bruder Caritas di
Purworejo, 1968
Staf KPTT di Girisonta, Ungaran, 1972
Staf KPTT di Girisonta, Ungaran, 1972
Suster-suster di Pringsewu,
1973
Suster-suster di Belitung,
Palembang, 1974
Pater J. Hovens, S.J., juga masih mempunyai
kesempatan dalam hal menulis suatu karangan atau buku dan semua buku-buku
tersebut diterbitkan. Buku-buku yang ditulis oleh beliau adalah tentang
Pertanian, sebagai berikut:
I. Buku-buku
yang diterbitkan tahun 1973:
Kehidupan Tumbuh-Tumbuhan
Tanah dan Pertanian
Ternak Umum
Beternak Ayam
Cengkeh
II. Buku-buku
yang diterbitkan tahun 1974:
Tanaman Padi
Tanaman Makanan
Kacang Tanah dan Kedelai
Beternak Babi
Sapi Perah
III. Buku-buku yang
diterbitkan tahun 1975:
Kopi
Kelinci
Buah-Buahan I & II
Bhs. Inggris Pertanian
IV. Buku yang
diterbitkan tahun 1976:
Kapas
Pada hari Minggu, 5 Februari 2006, Pater J. Hovens, S.J.,
masuk ICU RS St. Elisabeth, Semarang, akan tetapi sebelum masuk ICU beliau
sudah menjalani rawat inap terlebih dahulu di RS St. Elisabeth, Semarang. Namun
pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, pada Senin,
6 Februari 2006, jam 17.20 di R. ICU St. Elisabeth, Semarang, Pater J.
Hovens, SJ, meninggalkan kita semua dan dia kembali kepada Bapa-Nya di Surga
dengan damai.
Pemakaman :
Misa
Requiem diadakan di Gereja St. Stanislaus Girisonta,
Hari : Selasa, 7 Februari 2006. Pkl: 11.00 WIB di
Gereja Paroki Girisonta dan dilanjutkan dengan pemakaman di Griya
Getsemani.
Semua
anggota Provinsi diharap berdoa secara khusus bagi arwah Almarhum dan keluarga
yang ditinggalkan.
Teriring
salam dan doa,
Socius
--------------
Upacara Peringatan Joep Hovens SJ
Sittard 4 maret 2006
Pemimpin: Jan Bentvelzen,
Provinsial Yesuit Belanda
Assisten: A. Priyono Marwan, Provinsial Yesuit Indonesia
1 Tes 4:13 Mat
20:1-16
Satu ketika, banyak tahun silam, sewaktu saya bersama Joep Hovens
berjalan-jalan di tempat pemakaman Yesuit di Girisonta, tempat ia sendiri
sekarang terbaring, pandangan kami terlayang pada nama-nama yang tercantum pada
salib nisan, nama orang-orang yang hampir semuanya masih kami kenal. Tiap kubur
tampak rapi terawat.. Tetapi ada beberapa yang ada taburan bunga segarnya dan
ada lilinnya yang menyala.
"Mereka-mereka itu bukan
orang yang dalam Serikat dibilang orang penting," kata Joep waktu itu.
"Buat orang penting tidak dibawakan bunga lho! Mereka yang tetap diingat
umat dan dikirimi bunga itu ya romo imam yang giat di bawah, dekat sama
orang." Itu salah satu dari sekian banyak amatan tajam Joep. Dan dia bisa
mengutarakannya dengan rada sarkastis pula. Karena itulah omong-omong dengan
Joep selalu menyenangkan. Selalu kena sasaran dan ia pakai cara yang enak,
malah sering disertai humor. Tapi tadi itu bukan cuma senda gurau belaka, ada
hal yang betul-betul mau ditegaskannya.
Jelas kepada siapa-siapa di pekuburan itu terarah rasa simpatinya. Ia sendiri
juga lebih mengharapkan bunga dari umat daripada penghargaan sebagai
orang tinggi. Baginya ini jauh lebih penting.
Sebagian besar kehidupannya sebagai misonaris, Joep aktif di bidang pertanian,
persis seperti saya. Meskipun murid-murid kursus tani saya tiap hari bekerja di
kebun barang enam jam di samping pelajaran teori, toh Joep menganggap kursus
itu terlalu mengawang. Pendekatannya lebih langsung. Didirikannya usaha
percontohan di desa, langsung bersama dengan orang-orang situ, sehingga seluruh
dusun bisa menyaksikan sendiri bahwa pertanian modern betul-betul dapat
dijalankan juga di dusun mereka. Itu dilakukakannya di daerah miskin di
Wonogiri dan di Sumsel, tempat banyak orang miskin dari Jawa pindah dengan harapan
mendapatkan hidup yang lebih layak.
Bukan berarti ia meremehkan bagian teori. Seandainya demikian, ia tentu takkan
menerbitkan seri buku pertanian yang hebat itu. Tidak dikarangnya sendiri,
namun dialah yang memotorinya dan juga memberi bahannya, terutama dengan
penerjemahan.
Inspirasi bagi karyanya di bidang pertanian tidak datang dari rasa sayang akan
tanam-tanaman dan hewan, tapi dari perhatiannya terhadap orang miskin. Bukan
itu saja cara dia menolong mereka. Saya masih ingat, ada skandal - satu dusun
dipaksa pindah ke wilayah yang kurang subur karena dusun mereka akan digenangi
air agar jadi waduk besar buat irigasi. Pemerintah berusaha menutup-nutupi
perkara itu, tapi Joep tak bisa tinggal diam; ia merasa mesti berbuat sesuatu. Tiap
minggu selama beberapa bulan ia berkendaraan ke dusun itu membawa beberapa
karung beras. Ketika akhirnya organisasi lain juga datang dengan bantuan dan
karung-karung berasnya tak dibutuhkan lagi, ia berhenti, o ja, bukan karena tak
diterimakasihi. Ia samasekali tidak meromantikkan orang miskin. Tapi ia tak
bisa menyalahkan mereka. Mereka itu serba kekurangan. Waktu tas berisi
pakaiannya dicuri, ia hanya berkata: Yah, mereka tentunya lebih membutuhkannya
daripada saya!
Joep itu pekerja yang datang pada jam pertama [Mat 20:1-16]. Ia sudah
menanggung beban sehari penuh dan panas teriknya matahari. Sebagai novis, pada
umur 22 tahun, ia berangkat ke Indonesia dan berkarya sampai tuntas. Selama
saya kenal dia, ia kesulitan tidur, ini jadi rintangan besar baginya. Nasihatnya
ketika saya ulang tahun ke-40, nikmati betul-betul lho sepuluh tahun mendatang
ini, sesudah itu cepat anjloknya. Jangan-jangan ia berbicara atas dasar
pengalaman pribadi!
Joep itu pekerja yang datang pada jam pertama. Saya datang bekerja jauh lebih
belakangan di kebun anggur yang sama. Dia itu satu dari mereka yang membuat
saya merasa sejak awal diterima, ia juga menyemangati saya pada saat-saat yang
tepat. Generasinya itu ada orang-orangnya yang dengan gairah dan mantap memulai
kerasulan sosial. Saya selalu merasa masih hijau dibanding mereka itu tapi saya
bangga bisa bekerja sama dengan mereka dan bisa jadi Yesuit seperti mereka.
Joep itu pekerja yang datang pada jam pertama, tapi ia samasekali tidak seperti
pekerja yang kecewa dalam perumpamaan itu. Ia tidak marah terhadap pemilik
kebun anggur yang juga mengupah sedinar kepada orang malang yang hanya
mendapatkan pekerjaan satu jam saja. Sebaliknya, ia siap merelakan dinarnya
bagi mereka supaya mereka bisa memberi makan anak istri mereka.
Joep mengamalkan seluruh hidupnya bagi Kebun Anggur Tuhan. Kalau saja tiap
orang bekerja dan hidup seperti Joep, niscaya Kerajaan Allah cepat datang.
Ditulisnya di dalam suratnya yang terakhir kepada keluarganya:
"Berjuanglah melawan macam-macam kaum hedonist, kapitalis, teknokrat, tuh
orang-orang yang tak peduli pada kaum miskin." Ini khas Joep!
Maka kita bisa juga dengan hati tenang mengikuti kata-kata Paulus :"Jangan
bersusah hati seperti orang-orang lain yang tak mempunyai pengharapan
itu." (1Tes 4:13). Tentu saja kita bersedih hati karena kehilangan
saudara, kemenakan, paman dan saudara seserikat. Tapi kita tidak berdukacita
seperti orang yang tanpa harapan.
Joep sudah bilang ya dan berangkat ke Kebun Anggur Tuhan. Ia menepati
perkataannya mulai dari jam pertama sampai jam terakhir. Kita boleh percaya
bahwa Tuhan juga menepati kata-kataNya: "...apa yang pantas akan kuberikan
kepadamu." (Mat 20:4).
Kita boleh percaya bahwa ia akan mendengar perkataan Tuhan: "hamba yang
baik dan setia, masuklah ke dalam kebahagiaan Tuanmu!" (Mat 25:21.23).
Saya berharap, saya nanti beroleh kesempatan duduk berdekatan dengan dia di
perjamuan surga, seperti dalam pesta di sini di dunia ini, untuk menikmati
pembicaraan dan minatnya yang jenaka, berisi, dan lebih-lebih yang penuh pengertian
itu.